Selasa, 05 April 2011

PANGERAN DAN PUTRI JIN BERUBAH WUJUD MENJADI ULAR HITAM

SERIAL JIN KERESEK
Bagian satu (1)
Para pembaca yang budiman, pelengkap bacaan Anda di majalah umum Muller ini, kami sajikan pula kisah misteri yang berdasarkan kisah nyata dialami oleh   sesepuh dan  para santri di pondok pesantren Keresek di kawasan Kecamatan Cibatu Garut. Memang ini kisah lama yang terjadi sekitar tahun 1920-an, tetapi saat ini kadangkala sisa-sisa dari adanya kunjungan jin ke pondok pesantren Keresek tersebut kerap kali terjadi. Namun hal itu kini tidak dianggap apa- apa oleh para sesepuh pesantren maupun santrinya, dianggap hal biasa. Kami dari rengrengan redaksi sebelum menuturkan kisah ini secara lengkap ke kehadapan Anda, terlebih dahulu mengucapkan terimakasih kepada Almarhum Mama Ajengan KH.Drs Hassan Basri, sebelum Mama ajengan ini meninggalkan kita selama  lamanya telah memberikan buku hasil tulisannya yang merupakan pengalaman berharga yaitu adanya gangguan dari puteri jin terhadap orang tuanya dan para santri di ponpes Keresek, yang kemudian memberikan ijin pula untuk dipublikasikan ke masyarakat secara luas. Tentu saja dari rengrengan redatur dan unsur pimpinan majalah umum dan selluler Muller ini, berdo'a kepada Alloh SWT semoga Mama ajengan KH Drs. Hassan Basri diterima iman islamnya dan mendapat tempat yang layak disisiNya. Kisah gangguan puteri jin ini ditulis kembali oleh redaktur senior, Cang Anwar. Yang tentu saja dalam penyajiannya itu disesuaikan dengan kaidah penulisan sebuah artikel hiburan yang ada penambahan dibeberapa bagian agar para pembaca bisa mengikutinya dengan mudah.  Maklum tulisan aslinya semuanya menggunakan bahasa sunda. Harapan kami semoga tidak mengecewakan dan selamat membaca. Redaksi.-
Para pembaca yang budiman, kisah ini diawali pada satu magrib disebuah sudut bangunan tempat para santri belajar mengaji dan sekaligus memperdalam ilmu Agama Islam di Pondok pesantren Keresek. Sementara yang membimbing para santri disaat mengaji dan belajarnya itu Mama kasepuhan KH Oco Busro ( ayahanda alm.KH Hassan Basri). Seperti biasa disebuah pondok pesantren layaknya, para santri baik laki  laki maupun perempuan, semuanya serius belajar mengaji. Apalagi waktu itu bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan khusu untuk belajar agama karena disebut dengan bulan penuh barokah. Dari mulai belajar mengaji kitab suci Al Qur'an hingga kemasalah lainnya semua santri tekun dan tidak ada seorangpun yang nakal seperti layaknya santri. Begitu pula dengan Mama Ajengan, sama menuntun para santri disaat belajar mengaji Al Qur'an tersebut penuh dengan  kasih saying agar para santri belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama Islam itu tidak sia  sia tetapi benar  benar bermanfaat serta ada hasilnya kelak disaat para santri itu diterjunkan ke masyarakat untuk menyebarkan kembali ilmu agama tersebut. Para santri dan Mama Ajengan malam itu sengaja mengambil tempat di mesjid agar mereka bias langsung tarawihan. Mesjid yang ada di komplek pesanren Keresek tersebut, terbilang cukup besar dan biasa dipakai kegiatan agama oleh pesantren atau masyarakat setempat disaat melaksanakan sholat Jum'at.
Sementara dibagian lain disudut lingkungan pondok pesantren, tersebutlah dua mahluk Allah yang tidak sama dengan kita yaitu jin tengah melakukan perjalanan jauh dari negeri asalnya kerajaan Jin Habsi yang terletak di kawasan Timur Tengah. Konon menurut pengakuan puteri jin, kedua mahluk itu tengah melaksanakan bulan madu, karena jin ini merupakan pasangan suami isteri yang baru saja  menikah , selain itu mereka dikenal sebagai pangeran dan puteri jin. Sebab kedua mahluk ciptaan Alloh SWT ini merupakan anak raja di negerinya yang oleh kedua orang tuanya dijodohkan antara putera mahkota sebuah kerajaan jin pula dinikahkan dengan sang puteri yang sama  sama dari keturunan raja Jin yang belakangan dikenal naman negeri sang puteri jin itu Habsi. Sedang sang puteri jin tersebut sempat mengenalkan diri dengan nama “Siti Qolbuniah”. Layaknya pasangan pengantin baru, dikalangan jin juga sama ingin melaksanakan bulan madu. Apalagi ini berasal dari keluarga kerajaan yang sudah pasti kaya dan semuanya bisa terwujud tanpa harus susah dan sulit mencari biaya. Begitu pula dengan kedua pengantin baru ini, dalam melakukan perjalanan bulan madunya itu tidak kepalang tanggung berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, mereka sampai ke tanah Jawa. Di tanah ini yang saat itu masih dalam cengkraman penjajah colonial Belanda, mereka berkeliling dari satu daerah ke kawasan lain. Hanya yang menjadi sasaran dalam perjalanannya itu mereka bukan hotel atau obyek wisata yang ditujunya tetapi pesantren.  Entah untuk kebeberapa hari, secara tiba  tiba puteri dan pangeran jin ini sampai ke kawasan Cibatu pasnya blok Keresek. Mereka sangat tertarik ketika mendengar alunan suara orang tengah mengaji Al Qur'an yang begitu merdu dan sangat menggugah. Mungkin dikarenakan sama  sama muslim, mereka jadi jadi terpikat ingin melihat dari dekat. Kehadiran sang puteri dan pangeran jin ini, memang tidak ada yang tahu baik disaat dalam perjalanan maupun ketika mencari tempat dimana suara aluan yang membaca ayat suci Al Qur'an tersebut ,  sebab jin itu termasuk mahluk halus yang hidup dalam dunia terpisah dengan manusia. Begitu pula ketika berjalan menuju pondok pesantren Keresek, walaupun malam itu  warga yang berada di sekitar pondok pesantren belum ada yang tidur akan sama  sama melaksanakan sholat tarawih, sama sekali tidak terlihat oleh mata telanjang. Selang beberapa saat mereka sampai di mulut gerbang pondok pesantren. Keinginan hati untuk melihat secara lebih dekat dengan pelantun kalam Ilahi itu membuat pasangan suami isteri tersebut makin penasaran. Malah saking ingin tahunya kedua mahluk halus ini ingin sama  sama satu lingkungan dengan para santri yang tengah belajar mengaji tersebut. Jin memang oleh Alloh SWT diberi kelebihan dalam hal lain, yaiyu bisa merubah  wujud mereka sekehandak hatinya. Begitu pula dengan pasangan pengantin baru ini, untuk bisa bersatu diruangan yang sama, dia berpikir untuk merubah wujud karena dengan memakai ujud seperti biasanya sulit untuk menembus alam manusia. Entah apa yang menjadi dasar pemilihanya dalam hal merubah ujud tersebut, karena diputuskannya menjadi pasangan ular hitam besar. Dua jelmaan jin tersebut yang kini sudah menjadi ular hitam, terus berlenggak lenggok layaknya seekor ular sedang berjalan, memasuki semak belukar yang ada dihalaman pondok pesantren itu. Sementara para santri dan Mama ajengan KH Oco Busro sama sekali tidak tahu ada kunjungan ke pondoknya,yaitu pangeran dan puteri jin. Apalagi saat itu tengah melaksanakan sholat tarawih jadi tidak seorangpun yang keluar mesjid.
Para pembaca yang budiman, pasangan suami isteri jin ini, hanya  menunggu diluar tidak bisa masuk ke dalam mesjid karena sebentar lagi sholat tarawih akan segera selesai. Begitu usai sholat, para santri berhamburan untuk pulang menuju ke kobong (tempat penampungan santri) masing  masing. Namun selang beberapa saat para santri banyak yang menjerit terutama perempuan dan lari kembali ke dalam mesjid. Mereka berteriak. “ Awas ….Awas…Ada ular besar “. Mereka ketakutan karena ada dua ular yang tengah menjalar dijalan setapak yang biasa dilewati oleh para santri. Tentu saja kehadiran dua ekor ular hitam dan besar ini membuat rebut seisi pesantren, karena tidak biasanya ada ular yang menghadang perjalanan para santri baik siang maupun malam. Sehingga dengan sendirinya para santri memadati teras mesjid serta sebagian ada yang melihatnya di jendela karena saking takutnya terhadap ular tersebut. Keributan itu akhirnya diketahui oleh Mama Ajengan KH Oco Busro.- (Bersambung)***

1 komentar:

Irfan Addriadi mengatakan...

lanjutannya mana ????

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Macys Printable Coupons